Dari artikel tersebut dapat disimpulkan bahwa pola
pembelajaran yang selama ini berlangsung tidak efektif dan tidak sesuai dengan perkembangan
zaman. Perlu diadakan perubahan pola pembelajaran. Pola pembelajaran yang
selama ini masih bersifat tradisional harus diubah menjadi pembelajaran yang
bersifat inovatif. Jangan jadikan siswa semata-mata sebagai objek, namun jadikanlah
siswa sebagai subjek pembelajaran. Biarkan siswa berperan aktif untuk bisa
menemukan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya, biarkan siswa menemukan
jawaban dari keingin tahuannya secara mandiri. Dalam proses pembelajaran,
seyogyanya guru memfasilitasi dan melayani peserta didiknya. Bukan menggurui
dan menjadikannya sebagai objek pendidikan yang hanya mendengarkan ceramah
gurunya tanpa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat-pendapatnya. Guru seharusnya
memberikan kepercayaan kepada siswanya, bahwa pada dasarnya mereka mempunyai
kemampuan untuk mempelajarinya secara mandiri, mereka mampu untuk memperoleh
pengetahuannya sendiri. Setiap siswa mempunyai karakter yang berbeda-beda,
tidak bisa disamakan dengan siswa yang lainnya. Maka dari itu, perlu penanganan
yang berbeda pula. Metode yang berbeda, pendekatan yang berbeda. Guru harus
mampu memahami karakter dari masing-masing peserta didik, mengenali kemampuan
setiap siswanya, sehingga guru bisa memberikan penanganan yang sesuai dengan
karakternya masing-masing. Karena kompetensi siswa itu beraneka ragam, maka
seharusnya guru tidak hanya mengacu pada satu cara saja. Guru membutuhkan
fasilitas yang beraneka ragam, buku-buku yang beraneka ragam pula untuk
mengembangkan kompetensi siswa yang beraneka ragam itu. Sehingga siswa dapat
merasa senang terhadap matematika tanpa ada paksaan dari guru untuk menyukai
mata pelajarannya. Siswa dapat menyadari bahwa mereka memerlukan matematika,
dan mereka akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga siswa akan
terdorong untuk mencari pengetahuan yang lebih banyak lagi untuk memenuhi rasa
keingin tahuannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar