Awalnya guru-guru memberikan
pekerjaan rumah kepada siswa tujuannya memang supaya siswa mau belajar di
rumah, walaupun hanya sekedar mengegrjakan tugas, namun setidaknya siswa
membuka kembali apa yang tadi sudah dipelajari walaupun hanya sekedar
mengerjakan tugas. Namun tugas yang terlalu banyak juga memberikan pengaruh
buruk terhadap psikologi diri siswa itu sendiri. Jalan keluarnya adalah guru
harus mampu untuk menarik perhatian siswa supaya siswa dapat menyukai mata
pelajarannya dengan kesadarannya sendiri tanpa ada paksaan dari guru.
Dengandemikian, maka siswa secara otomatis pasti akan membuka pelajaran,
mempelajarinya sendiri dan mengerjakan soal-soal latihannya dengan penuh
kesadaran sebelum guru memerintahkan kepada siswa untuk mempelajari atau
mengerjakan latihannya. Sehingga pada saat proses belajar mengajar berlangsung
siswa sudah mempunyai gambaran materi apa yang akan dipelajari dan juga siswa
dapat berperan aktif dalam pembelajaran. Karena sudah mempelajarinya terlebih
dahulu, maka apabila siswa mendapat kesulitan bisa langsung bertanya kepada
gurunya. Selain itu, siswa juga bisa menyampaikan kesimpulan dari hasil
belajarnya kepada guru, menyampaikan pendapat-pendapatnya. Dengan demikian,
maka pembelajaran yang bersifat inovatif dapat tercapai. Guru juga memberikan
motivasi-motivasi kepada siswanya supaya mempunyai semangat untuk mengerjakan
soal matematika tanpa ada anggapan bahwa soal matematika itu sulit. Bisa dengan
member kesempatan kepada siswa untuk mengikuti perlombaan matematika, apabila
siswa tersebut dapat meraih kejuaraan maka siswa itu akan termotivasi dan
merasa penasaran terhadap matematika. Melalui pengalaman salah satu teman
tersebut, maka siswa yang lain juga akan terinspirasi dan merasa tidak ingin
kalah dengan teman yang berhasil tadi. Namun, guru juga tidak diperkenankan
pilih kasih terhadap siswa yang cepat memahami dengan siswa yang lambat. Sikap
guru harus sama, namun metode yang diterapkan berbeda, sesuai dengan kebutuhan
masing-masing siswa.
Selasa, 26 Februari 2013
Refleksi Metodologi Pendidikan
Ya, memang begitu banyak
persoalan-persoalan yang ada di dunia pendidikan Indonesia, tak terkecuali
pendidikan matematika dan pembelajaran matematika. Banyak yang beropini bahwa
matematika itu sulit. Matematikan itu membosankan. Opini-opini tersebut mereka
bawa sejak mereka masih SD. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru SD harus
bisa membawa perubahan yang signifikan bagi anak didik kita nantinya. Kita
seharusnya mampu merubah opini tersebut, karena senyatanya matematika itu tidak
sulit, justru menyenangkan. Seorang guru hendaknya mampu memberi sinyal-sinyal
positif supaya anak didik kita tertarik dengan pelajaran matematika dan membuat
mereka merasa butuh dengan pelajaran matematika karena sebenarnya matematika
itu adalah diri siswa itu sendiri. Dalam kegiatan apapun di aktifitas
sehari-hari kita, kita selalu berhubungan matematika, maka dari itu dapat
dinyatakan bahwa matematika itu penting.
Seorang guru juga harus mampu untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Supaya
siswa mampu berperan aktif dalam pembelajaran, tidak sebagai objek
pembelajaran, namun siswa sebagai subjek pembelajaran.
Upaya apa yang bisa kita lakukan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia supaya bisa setara dengan
pendidikan di Luar negeri??
Maju untuk Pendidikan Indonesia!!!
Refleksi Problem Utama Inovasi Pembelajaran (Matematika) pada PLPG dan Sertifikasi Guru
Seiring dengan perkembangan zaman, maka
perlu diadakan perubahan juga dalam bidang pendidikan. Pembelajaran tradisional
yang dulu berpusat pada guru, dirasa tidak sesuai lagi, maka dari itu perlu
dirubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam hal ini, siswa
diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, menyimpulkan sendiri,
dan cara belajar siswa bebas sesuai dengan karakter masing-masing. Guru tidak bisa
memaksa siswa untuk menjadi apa yang dia inginkan. Kebutuhan belajar setiap siswa berbeda antara
satu dengan yang lainnya karena potensi setiap siswa itu berbeda. Maka guru
harus mengadakan pendekatan secara intensuf kepada setiap siswa, dengan metode yang
berbeda. Guru tidak bisa menerapkan satu metode kepada seluruh siswa karena
apabila siswa yang satu cocok dan bisa menerima pembelajaran dengan metode
tersrbut, belum tettu siswa yang lain bisa. Sebaiknya guru tidak hanya
menggunakan satu LKS saja. Dalam hal ini, saya piker guru lebih baik membuat
diktat sendiri sehingga guru bisa mengambil hal-hal yang penting dalam setiap
LKS. Dalam diktat tersebut berisi ringkasan materi dan soal-soal latihan serta
dilengkapi dengan contoh penyelesaian soal. Diktat sebaiknya dibuat dengan
bahasa yang sederhana sehingga dapat mudah dimengerti oleh siswa. Dengan ini,
diharapkan siswa dapat mempelajarinya sendiri dan langsung bisa memahami serta
bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa ada pemnjelasan dari guu. Sehingga
sebelum guru memasuki materi tersebut siswa sudah memahaminya. Dengan begitu,
maka siswa suah berperan aktif dalam pembelajaran dan pembelajaran juga tidak
berpusat pada guru. Inilah pembelajaran yang inovatif yang harus kita terapkan.
Semoga sukses, untuk dunia pendidikan Indonesia.
Apakah sertifikasi guru benar-benar bisa
member manfaat sesuai yang kita harapkan untuk pendidikan Indonesia? Atau
sertifikasi guru hanya dijadikan ajang kenaikan gaji untuk para guru yang tidak
professional?
Refleksi Peran Intuisi Dalam Pembelajaran Matematika
Intuisi mempunyai peran yang sangat
besar dalam pembelajaran matematika. Intuisi sangat diperlukan dalam memahami
matematika, penyelesaian masalah matematika, serta dalam menghadapi
kesulitan-kesulitan yang sering dijumpai dalam matematika. Anak-anak SD
sekarang memang sudah banyak yang kehilangan intuisinya. Oleh karena itu, maka
menjadi kewajiban kita sebagai calon guru untuk bisa menjaga intuisi kita
sendiri dan intuisi anak didik kita, guna mencapai tujuan pembelajaran dalam
matematika. Intuisi hendaknya juga
diselaraskan dengan pikiran masing-masing pribadi siswa.
Rabu, 20 Februari 2013
Refleksi Pembelajaran Matematika seperti Apa Yang Kita Harapkan di SD?
Ya, saya sependapat
bahwa selain sebagai subjek yang dtransfer, matematika juga sebagai suatu
kegiatan kemanusiaan. Langkah-langkah pembelajaran yang realistic memang sangat
diperlukan dalam pembelajaran matematika karena dapat menggali potensi-potensi
yang dimiliki siswa dan juga dapat mengembangkan kemandirian serta kreatifitas
dalam diri siswa itu sendiri. Sehingga siswa tidak akan tergantung pada apa
yang disampaikan gurunya, siswa akan mampu mengemukakan pendapatnya sendiri
sesuai dengan apa yang ia dapatkan dari belajarnya secara mandiri. Dengan
demikian, maka suasana belajar di dalam kelas akan sangat kondusif dan siswanya
juga interaktif untuk menyampaikan pendapat-pendapatnya, selain itu, siswa juga
akan tertarik dengan mata pelajaran sehingga akan mendorong siswa mencari tahu
lebih banyak lagi tentang materi tersebut.
Namun, kita juga perlu
memikirkan kompetensi setiap siswa yang berbeda satu dengan yang lainnya. Siswa-siswa
SD yang masih kelas rendah juga belum tentu mampu untuk diajak berpikir seperti
itu, mereka belum bisa mandiri, masih membutuhkan tuntunan dan arahan dari
gurunya. Maka dari itu, langkah-langkah pembelajaran yang realistic ini
bukanlah yang terbaik untuk semua siswa, karena kemampuan setiap siswa itu
berbeda-beda. Oleh karenanya, maka metode-metode yang lain juga dibutuhkan.
Guru tidak bisa menanamkan satu metode pada semua siswa, guru harus
menyesuaikan dengan kompetensi setiap diri siswa. Maka guru tidak bisa member perlakuan yanga
sama kepada semua siswanya, guru harus menerapkan metode yang berbeda-beda
kepada setiap siswanya, sesuai dengan kebutuhan siswanya.
Langkah-langkah pembelajaran yang
realistic mungkin tepat untuk siswa-siswa pada jenjang menengah, kemudian
bagaimana dengan siswa SD pada kelas pemula?? Metode apa yang bisa kita
terapkan? Apa mungkin metode pengajaran yang tradisional bisa kita terapkan?
Atau mungkin ada metode yang lain?
terimakasih.
terimakasih.
Langganan:
Komentar (Atom)