Rabu, 20 Maret 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?



Di sini yang jadi perbedaaan adalah persepsi dan pemahaman kita mengenai kurikulum itu sendiri. Selama ini kita telah salah dalam mengartikan kurikulum pendidikan. Kurikulum di Indonesia ditentukan oleh pemerintah, tanpa memikirkan bagaimana tingkat kompetensi yang dimiliki setiap siswa. Kita sebagai calon guru SD, inilah saatnya bagi kita untuk menggapai perubahan demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Kita seharusnya berceermin dari guru-guru di London tersebut. Bagaimana pengorbanan mereka untuk pendidikan demi mencerahkan masa depan bangsanya.
Sekarang saya sadar bahwa untuk menggapai kesuksesan bangsa itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan kita. Kita nutuh pengorbanan besar untuk keberhasilan bangsa ini. Korban materi, korban tenaga, dan korban waktu. Buruknya bangsa ini adalah tidak mau berkorban, hanya mau korupsi.
Sebagai guru, tugasnya adalah melayani dan memfasilitasi peserta didik, kita harus mengikuti kemauan peserta didik. Sebagai guru juga harus pandai-pandai dalam memahami setiap karakter yang dimiliki setiap individu. Guru harus memiliki trik yang bagus dalam mengembangkan potensi siswa-siswanya. Dalam proses pembelajaran, hendaknya siswa punya hak untuk menentukan belajarnya itu mau dibuat seperti apa, dan dalam suasana yang bagaimana. Dengan demikian maka siswa akan merasa sangat rindu dengan belajar, dan kegiatan belajar pun akan menjadi hobby setiap siswa. 

Refleksi Mathematics and Language



Ya, memang benar adanya bahwasannya matematika dan bahasa itu tidak dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan oleh dalam matematika itu sendiri sudah mengandung bahasa. Seperti yang kita ketahui bahwasannya bahasa itu merupakan suatu symbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap, dimana bahasa ini disepakati oleh kalangan atau kelompok tertentu sebagai alat atau sarana menjalin komunikasi. Dimana bahasa ini dapat dimengerti oleh masing-masing anggota tersebut. Demikian halnya juga dengan matematika. Sebenarnya, di dalam matematika itu sendiri juga sudah mengandung suatu simbol-simbol yang mana symbol tersebut telah mempunyai arti tersendiri yang telah disepakati. Bahkan kesepakatan itu diakui oleh penduduk secara global dari zaman ke zaman.  Berbeda dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh kelompok orang tertentu saja. Orang yunani belum tentu mengerti bahasa yang digunakan oleh orang Indonesia.
Namun, apabila kita berbicara mengenai pembelajaran matematika, tentu kita akan berbicara pula mengenai bagaimana penyampaian pelajaran matematika di dalam kelas tersebut.  Apakah penyampaian ini menggunakan bahasa Ibu sesuai dengan daerahnya masing-masing, atau menggunakan bahasa Inggris karena bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional. Setelah saya pertimbangkan dan saya piker-pikir lagi, saya setuju dengan dialog tersebut bahwasanya penyampaian pelajaran matematika di kelas itu akan lebih efektif apabila disampaikan menggunajan bahasa Ibu terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan tingkat pemahaman manusia itu akan lebih besar apabila menggunakan bahasa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah kita telah memahami, baru kita menggunakan bahasa Inggris. Namun, kita juga harus paham dan benar-benar mengerti bahasa Inggris terlebih dahulu. Apabila tidak mengerti, maka akan menimbulkan salah persepsi. Hal ini dikarenakan tenses atau tata bahasa dari masing-masing bahasa itu berbeda-beda. Apabila salah persepsi ini terjadi pada anak didik, maka akan menimbulkan akibat yang sangat fatal.
Maka dari itu, sebagai calon guru kita harus bisa menerapkan metode-metode yang tepat untuk anak didik kita, demi keberhasilan pembelajaran yang kita laksanakan. Demi keberhasilan anak didik kita di masa yang akan datang. Demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Maju pendidikan Indonesia.!!